CERITA HOROR DI DESA SEKERNAN
KUNTILANAK
Dosen Pembimbing : Isnaini M.Hum
Disusun Oleh :
Amir Mahrufy
IPT 111106
JURUSAN ILMU
PERPUSTAKAAN
FAKULTAS SASTRA DAN
KEBUDAYAAN ISLAM
INSTITUT AGAMA
ISLAM NEGERI
SULTHAN THAHA
SAIFUDDIN JAMBI
NOVEMBER 2013
“KUNTILANAK”
Awal Cerito,e sayo Amir Mahrufy menuju salah satu rumah wargo
di kampong sayo yang terletak di Rt 10 desa Sekernan, dak terlalu jauh lah
pokok,e kalu dari rumah sayo, Cuma beda sekok RT be, malam tu malam kamis sayo
kerumah pak Syaifudin, atau yang sering dipanggil Lek Udin, maklumlah orang
jawo !! kalu orang padang Udah dipanggilnoy, malam tu sayo semangat nianlah
kerumah pak Syaifudin tu, walaupun jalan Leak karno sesudah ujan !!
Langsung be yo sayo cerito, dak usah nak panjang lebar mukodomah
pulak, kalagiko ceritoe makin dak nyambung,, hahahaaa…..
Lain Dusun lain pula ceritoe, mungkin sayo dak begitu paham
nian tentang si Kuntil Anak ko, maklum karno belum pernah ktemu scara langsung
dengan Kuntilanak tu (mudah-mudahan jangan sampai yo) heheheee…. Sayo segan
kalu nengok Antu, tu, kalagiko marinding bulu Romo
Awal cerito macam ko kalo nganing Doi atau Kuntilanak tu
nangis la agak sering nganing,e, tapi kalo nengok surve di lapangan ( ciek
ela.. gaya sayo ko), di daerah sayo sekarang ko di desa sekernan Rt 11 tepatnya
di provinsi jambi kuntilanak yang sayo dapatkan ceritoe dari bapak Syaifuddin
tu dak terlalu elok dan ruponyo tu macam dak karuan, maklumlah Namoe be Antu
Kuntilanak kalo nak Elok Luna Maya kogak,, hahahaaa. Kato bapak Syaifudin tu
macam ko bentuk ciri-ciri fisik,e bertubuh kerdil alias keci’ yo kurang lebih
saumuran akan 4-5 tahunnanlah, dan besak nian jugo, mungkin kalo artist u macam
Ucok Baba.
Kato
cerito yang awak kaning dari bapak Syaifudin tu bahwo KuntiLanak sukonyo nangis be gawe,e sarupo budak bayi nang baru
lahir, entah apo yang Kuntilanak tangisi tu, munkin dak yo diok nan mintak minta
Ayah hahahaaayyy. Trus bapak Sayfudin tu jugo nyebut kalu dari suaronyo agak len
dikit degan bayi manusio macam kito kiniko atau macam bayi manusio ko, kato
warga di kampung sayo, kalu suaronyo la dekat nian berarti Kunti Lanak tu masih
jauh dari kito, tapi kalu suaronyo agak jauh berarti Kunti Lanak tu la dekat
nian dengan kito.
Ke
banya’an dari cerito yang sayo kaning (dengar) di dusun tempat sayo tinggal
kiniko, Kunti Lanak tu paling takut dengan yang namonyo Batino yang la jadi
ibu-ibu, bukan ibu-ibu yang lagi Hamil yo, kalau itu Kunti Lank paling hoby ngangg,e,
! Trus sayo betanyo dengan bapak Syaifudin tu ngapo pak si Kunti Lanak tu takut
samo Ibu-ibu..? terus bapak Syaifudin tu bilang menurut wargo di sekitar
kampung sayo, kalau para ibu-ibu sudah mendengar tangisan sang Doi, ibu-ibu
mesti memberanikan diri dengan membaco ayat-ayat suci, terutama untuk menghina
dan mencaci maki Si Doi (KuntLanak), mungkin ko la sudah jadi tradisi para
Ibu-ibu di kampung sayo kalu nak nengok (melihat) atau nak nganing (mendengar) tangisan dari Si Doi,
karno menurut Ibu-ibu di sekitar kampung sayo, Doi paling ga' tahan kalu dapat
cacian dari para ibu-ibu, maklum mulut perempuankan biasanya pedas apalagi kalu
la betemu (ketemu) ibu-ibu yang judes bias habis tu Doi di kata-katain. Hinaan
yang biaso di ucapkan adalah “dasar anak kampang "(anak haram) dst., biaso,e
Doi tu langsung kabur, hal teresbut la biaso di lakukan para ibu-ibu yang udah
punya Nyali.
Doi
paling suko tu ganggu ibu-ibu hamil, jika tak ada tangkal buat ibu-ibu hamil
biasanya bayinya hilang dalam kandungan, atau parahnya bayi yang di kandung
ibu-ibu meninggal, tangkalnyo biaso,e adalah buah kundur, kalau bahasa
Indonesianya sayo kurang tau jugo, bentuknyo agak mirip buah balewa ( Timun Manis),berwarna
hijau, ada putihnya seperti di bedakinlah. Banyak jugo buah tu di jual di
buluran , pasar sengeti dan angso duo,, heheheee……
Doi
juga paling suko dengan jantan, biaso,e yang Doi incar burungnya para lelaki
(alat vital). jika tak di jaga biasanya burungnya bisa-bisa hilang. dan
itu pernah ada kejadiannya. Jadi ada sebuah kisah yang menceritakan.kalau jaman
dulu di dusun sebelah tempat sayo tinggal yang masih terbilang hutan, namun dak
macam kinikio (jaman sekarang ini) galo,e la sudah tertata dengan rapi, kalau
dulu semua pohon tumbuh dengan besar, seperti pohon rambutan liar, mangga liar,
dan pohon –pohon tersebut tidak seperti pohon –pohon pada umumnyo, pohon itu
tumbuh tinggi dan ukuran kelilingnyapun sangat besar.
Dulu
pernah ado sekelompok anak mudao yang berkemping di daerah sayo, oleh wargao pemuda
itu di beri Izin, dengan syarat para pemuda itu dak boleh melakukan hal-hal
maksiat yang di larang oleh agama, dan jangan pernah masuk terlalu jauh ke
dalam hutan, cukup di seputaran lapangan sajo, kebetulan yang mereka tempati
itu adalah lapangan sepak bola yang biaso di pake para pemudo setempat untuk
latihan. Karno Sekelompok pemuda dan pemudi itu terbilang cukup banyak jumla.e
ado 20 orang, jadi para wargo di sekitar kampung sayo dak terlalu khwatir,
selagi mereka tidak berbuat yang macam-macam.
Jadi
ketika mereka la sudah selesai membuat tenda-tendanyo, mereka kekurangan
kayu api kaonyo nak untuk mbuat api ungun dan bahan bakar untuk memasak, jadi
di bagilah oleh ketua regunya menjadi 3 kelompok untuk mencari kayu bakar,
setiap regu beranggotakan 3 orang, jadi 9 orang yang mencari kayu dan yang 11
lainya mempersiapkan untuk acara kagek malam. ketua regunyo sempat menasehati
anggotanyo yang nak nyari kayu bakar tersebut agar berhati-hati dan mencari
kayunyo di seputaran lapangan saja atau meminta sedikit kayu pada warga
sekitar.
Namun
salah satu dari kelompok itu tersesat, kelompok yang terdiri dari 3 orang laki-laki
ko tersesat setelah mencari kayu api, dan mereka dak tau tahu arah jalan nak
balek , sebab dak ado cahaya sedikit pun untuk mereka ikuti, hanya bermodalkan
senter kecil yang cahayanyo kurang begitu terang, sampai suatu ketika senter
itu pun mulai redup dan mati karna ke habisan baterai, di lihatlah oleh salah
satu dari mereka sebuah cahaya yang tak jauh dari mereka,”kito lah sudah aman
kiniko”, kato salah satu dari mereka. Dan senter yang di tangan salah satu
kawan mereka pun “Campak” (terjatuh), lalu salah seorang kawanyo berkato sudah
jangan di ambek lagi, kitokan la nak sudah sampae di tempat wargo.
Setelah
jam 11 malam salah satu kelompok yang belum tibo tersebut, membuat ketuo
regunyo jadi semakin panik, dan berkata, “kalu nak becando janganmacam ko
caro,e ”, ketuo regunya sangat kesal melihat anggotanya yang belum jugo balek ke
perkemaan, dan bergegas untuk mencari anggotanya yang hilang dengan di bantu
anggota lain yang masih ado.
Anggota
yang tersesat tadi pun mulai menyelusuri cahaya lampu, sesampai di sano mereka
tercengang, mendapati ada rumah gubuk yang berado di atas pohon, di sano mereka
bertemu degan seorang wanita tua paruh baya yang yang berambut panjang dan
berpakaian putih namun tidak terlalu putih seperti warna kraim, sedang duduk di
depan pintunya rumahnyo, dan wanita tua tersebut mempersilahkan ke 3 jantan
tadi untuk mampir ke rumahnyo degan melambai-lambaikan tanganya, tentu saja ke
3 jantan tadi mau, karena mereka jugo mulai kehausan dan kelaparan mengigat
cuaca pun mulai sangat dingin, dan mereka juga ingin meminta informasi kepada
wanita paruh baya tersebut agar dapat menunjukan jalan pulang, saat mereka
masuk ke gubuk “Batino” (wanita) tersebut mereka melihat ada sesosok anak kecil
di dalam ayunan, ya seperti bayi pada umumnya, salah satu dari 3 orang pemuda
tadi pengen mendekati anak tersebut, maksudnya agar lebih akrab dan dapat
meliat anak tersebut, namun wanita paruh baya itu berkata “ jagan
dekatin..nanti ia terbangun”, salah satu laki-laki tadiko pun dak lagi mendekati ayunan itu, lalu
mereka pun di suguhkan oleh wanita paruh baya tadi beberapa hidangan, dan di
santablah oleh ke 3 orang tadi degan lahabnya.
Ketua
regunya yang kehilangan Anggotanya tersebut mulai prustasi, ia dan 16 anggota
lainnya sudah mencari kesana kemari namun ke 3 rekanya tersebut belum jugo di
temukan, sampai jam 4 pagi barulah hal ini di laporkan kepada kepala desa.
Ke
esokan harinyo pukul 10 pagi salah satu dari wargo kampung yang sedang nak
bertani menemukan 3 orang pemudo tu ado di dekat pohon rambutan di samping
tambak (kolam buatan), ke 3 nyo di temukan pingsan, jarak mereka di temukan denga
tempat lokasi mereka berkemah terbilang cukup jauh, sekitar 15 menit perjalanan
kaki, lalu ketigo pemuda tersebut di bawalah ke balai desa, setelah di obati
dan di beri minuman yang sudah di tawar barulah ke tiga pemuda tadi sadarkan
diri, setelah sadar mereka pun menceritakan Kronologis kejadian yang telah
mereka alami, namun ke tiganya masih terlalu lemas, dan sering tak sadarkan
diri, celana yang penuh degan darah membuat para warga menaruh curiga atas apa
yang telah di alami mereka, Jadi salah seorang warga dari kampung saya meminta
ke 3 pemuda tersebut untuk melihat isi di dalam celanya,ke 3 pemuda itupun Histeris dan menangis dan akhirnya pingsan, ternyata
burung yang ada di celananya selama ini sudah dak ado lagi di tempatnya alias
Hilang. Setelah beberapa bulan sejak kejadian itu warga di kampung mendapat
berita bahwo ke 2 dari 3 orang pemuda itu akhir meniggal dunia. Dan salah satu
temannya menjadi waria yang sering beke.liaran di lampu merah,, hahhaaaaa………
Oh iya..ada sedikit penjelasan tentang Doi..menurut
masyarkat di kampung tu Doi adalah bayi yang telah di gugurkan oleh orang
tuanyo, atau bayi har...m yang dak di ingginkan, itu sebabnya Doi suka makan
burung lelaki, mungkin Doi kesal ama lelaki karno perbuatan yang tak terpuji
sehingga Doi jadi macam ko. kalu Doi suka ganggu wanita hamil mungkin Doi iri dengan
anak yang nantinyo akan di lahirkan..karna Doi dak biso macam mereka..
Dan
menurut wargo di kampung sayo rumah kuntilanak itu adalah pohon sejenis Parasit
yang hidup di pohon-pohon besar, daunya seperti daun pisang tapi keras, sayo
juga kurang tau jugolah apo namo tanaman
itu, namun ado yang bilang itu pohon anggrek hutan, nang gedang batang,e !!
Sumber : Bapak Syaifudin
Ketuo Rt : 10 desa Sekernan November 2013