Jumat, 08 November 2013


CERITA HOROR DI DESA SEKERNAN
KUNTILANAK


Dosen Pembimbing : Isnaini M.Hum
Disusun Oleh :
Amir Mahrufy
IPT 111106

JURUSAN ILMU PERPUSTAKAAN
FAKULTAS SASTRA DAN KEBUDAYAAN ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI
NOVEMBER 2013
“KUNTILANAK”

Awal Cerito,e sayo Amir Mahrufy menuju salah satu rumah wargo di kampong sayo yang terletak di Rt 10 desa Sekernan, dak terlalu jauh lah pokok,e kalu dari rumah sayo, Cuma beda sekok RT be, malam tu malam kamis sayo kerumah pak Syaifudin, atau yang sering dipanggil Lek Udin, maklumlah orang jawo !! kalu orang padang Udah dipanggilnoy, malam tu sayo semangat nianlah kerumah pak Syaifudin tu, walaupun jalan Leak karno sesudah ujan !!

Langsung be yo sayo cerito, dak usah nak panjang lebar mukodomah pulak, kalagiko ceritoe makin dak nyambung,, hahahaaa…..

Lain Dusun lain pula ceritoe, mungkin sayo dak begitu paham nian tentang si Kuntil Anak ko, maklum karno belum pernah ktemu scara langsung dengan Kuntilanak tu (mudah-mudahan jangan sampai yo) heheheee…. Sayo segan kalu nengok Antu, tu, kalagiko marinding bulu Romo

Awal cerito macam ko kalo nganing Doi atau Kuntilanak tu nangis la agak sering nganing,e, tapi kalo nengok surve di lapangan ( ciek ela.. gaya sayo ko), di daerah sayo sekarang ko di desa sekernan Rt 11 tepatnya di provinsi jambi kuntilanak yang sayo dapatkan ceritoe dari bapak Syaifuddin tu dak terlalu elok dan ruponyo tu macam dak karuan, maklumlah Namoe be Antu Kuntilanak kalo nak Elok Luna Maya kogak,, hahahaaa. Kato bapak Syaifudin tu macam ko bentuk ciri-ciri fisik,e bertubuh kerdil alias keci’ yo kurang lebih saumuran akan 4-5 tahunnanlah, dan besak nian jugo, mungkin kalo artist u macam Ucok Baba.

Kato cerito yang awak kaning dari bapak Syaifudin tu bahwo KuntiLanak sukonyo nangis be gawe,e sarupo budak bayi nang baru lahir, entah apo yang Kuntilanak tangisi tu, munkin dak yo diok nan mintak minta Ayah hahahaaayyy. Trus bapak Sayfudin tu jugo nyebut kalu dari suaronyo agak len dikit degan bayi manusio macam kito kiniko atau macam bayi manusio ko, kato warga di kampung sayo, kalu suaronyo la dekat nian berarti Kunti Lanak tu masih jauh dari kito, tapi kalu suaronyo agak jauh berarti Kunti Lanak tu la dekat nian dengan kito. 
Ke banya’an dari cerito yang sayo kaning (dengar) di dusun tempat sayo tinggal kiniko, Kunti Lanak tu paling takut dengan yang namonyo Batino yang la jadi ibu-ibu, bukan ibu-ibu yang lagi Hamil yo, kalau itu Kunti Lank paling hoby ngangg,e, ! Trus sayo betanyo dengan bapak Syaifudin tu ngapo pak si Kunti Lanak tu takut samo Ibu-ibu..? terus bapak Syaifudin tu bilang menurut wargo di sekitar kampung sayo, kalau para ibu-ibu sudah mendengar tangisan sang Doi, ibu-ibu mesti memberanikan diri dengan membaco ayat-ayat suci, terutama untuk menghina dan mencaci maki Si Doi (KuntLanak), mungkin ko la sudah jadi tradisi para Ibu-ibu di kampung sayo kalu nak nengok (melihat) atau  nak nganing (mendengar) tangisan dari Si Doi, karno menurut Ibu-ibu di sekitar kampung sayo, Doi paling ga' tahan kalu dapat cacian dari para ibu-ibu, maklum mulut perempuankan biasanya pedas apalagi kalu la betemu (ketemu) ibu-ibu yang judes bias habis tu Doi di kata-katain. Hinaan yang biaso di ucapkan adalah “dasar anak kampang "(anak haram) dst., biaso,e Doi tu langsung kabur, hal teresbut la biaso di lakukan para ibu-ibu yang udah punya Nyali.

Doi paling suko tu ganggu ibu-ibu hamil, jika tak ada tangkal buat ibu-ibu hamil biasanya bayinya hilang dalam kandungan, atau parahnya bayi yang di kandung ibu-ibu meninggal, tangkalnyo biaso,e adalah buah kundur, kalau bahasa Indonesianya sayo kurang tau jugo, bentuknyo  agak mirip buah balewa ( Timun Manis),berwarna hijau, ada putihnya seperti di bedakinlah. Banyak jugo buah tu di jual di buluran , pasar sengeti dan angso duo,, heheheee……

Doi juga paling suko dengan jantan, biaso,e yang Doi incar burungnya para lelaki (alat vital).  jika tak di jaga biasanya burungnya bisa-bisa hilang. dan itu pernah ada kejadiannya. Jadi ada sebuah kisah yang menceritakan.kalau jaman dulu di dusun sebelah tempat sayo tinggal yang masih terbilang hutan, namun dak macam kinikio (jaman sekarang ini) galo,e la sudah tertata dengan rapi, kalau dulu semua pohon tumbuh dengan besar, seperti pohon rambutan liar, mangga liar, dan pohon –pohon tersebut tidak seperti pohon –pohon pada umumnyo, pohon itu tumbuh tinggi dan ukuran kelilingnyapun sangat besar.

Dulu pernah ado sekelompok anak mudao yang berkemping di daerah sayo, oleh wargao pemuda itu di beri Izin, dengan syarat para pemuda itu dak boleh melakukan hal-hal maksiat yang di larang oleh agama, dan jangan pernah masuk terlalu jauh ke dalam hutan, cukup di seputaran lapangan sajo, kebetulan yang mereka tempati itu adalah lapangan sepak bola yang biaso di pake para pemudo setempat untuk latihan. Karno Sekelompok pemuda dan pemudi itu terbilang cukup banyak jumla.e ado 20 orang, jadi para wargo di sekitar kampung sayo dak terlalu khwatir, selagi mereka tidak berbuat yang macam-macam.

Jadi ketika mereka la sudah selesai membuat tenda-tendanyo, mereka  kekurangan kayu api kaonyo nak untuk mbuat api ungun dan bahan bakar untuk memasak, jadi di bagilah oleh ketua regunya menjadi 3 kelompok untuk mencari kayu bakar, setiap regu beranggotakan 3 orang, jadi 9 orang yang mencari kayu dan yang 11 lainya mempersiapkan untuk acara kagek malam. ketua regunyo sempat menasehati anggotanyo yang nak nyari kayu bakar tersebut agar berhati-hati dan mencari kayunyo di seputaran lapangan saja atau meminta sedikit kayu pada warga sekitar.

Namun salah satu dari kelompok itu tersesat, kelompok yang terdiri dari 3 orang laki-laki ko tersesat setelah mencari kayu api, dan mereka dak tau tahu arah jalan nak balek , sebab dak ado cahaya sedikit pun untuk mereka ikuti, hanya bermodalkan senter kecil yang cahayanyo kurang begitu terang, sampai suatu ketika senter itu pun mulai redup dan mati karna ke habisan baterai, di lihatlah oleh salah satu dari mereka sebuah cahaya yang tak jauh dari mereka,”kito lah sudah aman kiniko”, kato salah satu dari mereka. Dan senter yang di tangan salah satu kawan mereka pun “Campak” (terjatuh), lalu salah seorang kawanyo berkato sudah jangan di ambek lagi, kitokan la nak sudah sampae di tempat wargo.

Setelah jam 11 malam salah satu kelompok yang belum tibo tersebut, membuat ketuo regunyo jadi semakin panik, dan berkata, “kalu nak becando janganmacam ko caro,e ”, ketuo regunya sangat kesal melihat anggotanya yang belum jugo balek ke perkemaan, dan bergegas untuk mencari anggotanya yang hilang dengan di bantu anggota lain yang masih ado.

Anggota yang tersesat tadi pun mulai menyelusuri cahaya lampu, sesampai di sano mereka tercengang, mendapati ada rumah gubuk yang berado di atas pohon, di sano mereka bertemu degan seorang wanita tua paruh baya yang yang berambut panjang dan berpakaian putih namun tidak terlalu putih seperti warna kraim, sedang duduk di depan pintunya rumahnyo, dan wanita tua tersebut mempersilahkan ke 3 jantan tadi untuk mampir ke rumahnyo degan melambai-lambaikan tanganya, tentu saja ke 3 jantan tadi mau, karena mereka jugo mulai kehausan dan kelaparan mengigat cuaca pun mulai sangat dingin, dan mereka juga ingin meminta informasi kepada wanita paruh baya tersebut agar dapat menunjukan jalan pulang, saat mereka masuk ke gubuk “Batino” (wanita) tersebut mereka melihat ada sesosok anak kecil di dalam ayunan, ya seperti bayi pada umumnya, salah satu dari 3 orang pemuda tadi pengen mendekati anak tersebut, maksudnya agar lebih akrab dan dapat meliat anak tersebut, namun wanita paruh baya itu berkata “ jagan dekatin..nanti ia terbangun”, salah satu laki-laki tadiko  pun dak lagi mendekati ayunan itu, lalu mereka pun di suguhkan oleh wanita paruh baya tadi beberapa hidangan, dan di santablah oleh ke 3 orang tadi degan lahabnya.
Ketua regunya yang kehilangan Anggotanya tersebut mulai prustasi, ia dan 16 anggota lainnya sudah mencari kesana kemari namun ke 3 rekanya tersebut belum jugo di temukan, sampai jam 4 pagi barulah hal ini di laporkan kepada kepala desa.

Ke esokan harinyo pukul 10 pagi salah satu dari wargo kampung yang sedang nak bertani menemukan 3 orang pemudo tu ado di dekat pohon rambutan di samping tambak (kolam buatan), ke 3 nyo di temukan pingsan, jarak mereka di temukan denga tempat lokasi mereka berkemah terbilang cukup jauh, sekitar 15 menit perjalanan kaki, lalu ketigo pemuda tersebut di bawalah ke balai desa, setelah di obati dan di beri minuman yang sudah di tawar barulah ke tiga pemuda tadi sadarkan diri, setelah sadar mereka pun menceritakan Kronologis kejadian yang telah mereka alami, namun ke tiganya masih terlalu lemas, dan sering tak sadarkan diri, celana yang penuh degan darah membuat para warga menaruh curiga atas apa yang telah di alami mereka, Jadi salah seorang warga dari kampung saya meminta ke 3 pemuda tersebut untuk melihat isi di dalam celanya,ke 3 pemuda itupun Histeris dan menangis dan akhirnya pingsan, ternyata burung yang ada di celananya selama ini sudah dak ado lagi di tempatnya alias Hilang. Setelah beberapa bulan sejak kejadian itu warga di kampung mendapat berita bahwo ke 2 dari 3 orang pemuda itu akhir meniggal dunia. Dan salah satu temannya menjadi waria yang sering beke.liaran di lampu merah,, hahhaaaaa………

Oh iya..ada sedikit penjelasan tentang Doi..menurut masyarkat di kampung tu Doi adalah bayi yang telah di gugurkan oleh orang tuanyo, atau bayi har...m yang dak di ingginkan, itu sebabnya Doi suka makan burung lelaki, mungkin Doi kesal ama lelaki karno perbuatan yang tak terpuji sehingga Doi jadi macam ko. kalu Doi suka ganggu wanita hamil mungkin Doi iri dengan anak yang nantinyo akan di lahirkan..karna Doi dak biso macam mereka..

Dan menurut wargo di kampung sayo rumah kuntilanak itu adalah pohon sejenis Parasit yang hidup di pohon-pohon besar, daunya seperti daun pisang tapi keras, sayo juga kurang tau jugolah apo  namo tanaman itu, namun ado yang bilang itu pohon anggrek hutan, nang gedang batang,e !!



Sumber : Bapak Syaifudin Ketuo Rt : 10 desa Sekernan November 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar